(Balada Cinta Kelas Pekerja –3: Maria dan Tomas)

Hari terik
Mentari tegak menukik
Tepat ubun-ubun
Dagangan Maria setengah tuntas
Air di botol tandas
Sungguh haus
Peluh mengalir mengundang keluh
mata memaku Oasis di ujung gang
sendiri pada lengang siang

Panas memang garang
melumat kulit bak umbar rindu setahun urung cumbu
Tomas tergoreng gosong
Lengan kanan lenggang
kiri pikul perkakas permak sepatu dalam kotak sempak sisi

Pikulan terasa bebas beban
Maria ingin lari hampiri Oasis
Tetapi tak!
Degup jatung meletup-letup
desir debur darah mengalir
Tubuh kaku tersihir

Tomas berjalan pelan
bilah di genggam beradu kotak kayu kusam
Teratur ritmik
Bertahun-tahun ajek
Tok . tok . tok . . toktok….tok . tok . tok . . toktok

Tomas sedepa di depan
Maria gelagapan
Apa yang harus ia lakukan?
Sebuah kedipan?
Jangan!
Itu seperti mengumpan
Senyuman?
Ya, itu mungkin mempan

Perempuan tersenyum
Panas siang mengubahnya
sekedar gurat lebar pada bibir

Dua pasang mata bersitatap
Sejenak yang tak mantap

Perempuan sontak tertunduk
Tubuh tegak oleh getar yang bikin takluk
Lelaki buru-buru mengangguk
Singkat senyum
Lalu berlalu
Tok . tok . tok . . toktok….tok . tok . tok .. toktok…

“Oh Oasisku, senyum itu menggulungku.”
Hati Maria riang ringan
“Esok aku tak sungkan berdandan.”

“Ah, perempuan pekerja keras
Esok aku gagah menyapa”
Tomas membangun tekad

***
Tilaria Padika
Timor, 09/12/2016
Baca PUISI TERBARU di Kompasiana

Advertisements